Dari Abdullah bin Amr ibn Al-Ash ra. bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barangsiapa yang bangun malam hari membaca sepuluh ayat akan dicatat sebagai orang yang tidak lalai, siapa yang membaca seratus ayat akan dicatat sebagai orang mantap dan kuat, siapa yang membaca seribu ayat dicatat sebagai orang yang kaya raya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Huzaimah)
2. Perumpamaan Orang yang Membaca Al-Quran
Grameds~, banyak-banyakin membaca Al-Quran, ya…
Karena dengan membaca, mempelajari, dan mengajarkan Al-Quran, kamu akan menjadi manusia yang paling disayang oleh Allah SWT.
Sebuah hadist menyatakan bahwa “Sebaik-baiknya kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya” (HR. Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)
Selain itu, juga disebutkan pula dalam hadist lain, “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Quran seperti buah utrujjah (limau manis), baunya enak, dan rasanya pun enak. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Quran seperti buah kurma, tidak berbau tapi rasanya manis. Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Quran seperti buah raihan, baunya enak tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Quran seperti buah pare, tidak berbau dan rasanya pahit”. (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Bahasa Lain dalam Al-Quran yang Non-Arab
Kita pasti tahu bahwa dalam kitab suci Al-Quran berisi bahasa Arab. Namun, tahukah kamu bahwa terdapat beberapa kata yang bersumber dari bahasa ‘ajam (selain bahasa Arab), yang mengalami Arabisasi sehingga menjadi bagian dari bahasa Arab.
Apa saja ya?
Al-Qisthas (dalam Bahasa Romawi berarti timbangan) dalam QS Al-Isra:35
Sijjiil (dalam Bahasa Persia berarti batu dari tanah) dalam QS Al-Fiil:4
Misykat (dalam Bahasa India berarti lubang di dinding yang tidak tembus) dalam QS An-Nur:35
Istabraq (dalam Bahasa Persia berarti kain sutra yang tebal) dalam QS al-Kahfi:31
4. Dengan Mendengar Al-Quran, Tekanan Darah Dapat Turun
Apakah kamu tahu bahwa dengan mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran, tekanan darah kita dapat turun?
Al-Quran memberikan pencerahan pada pembaca dan pendengarnya (QS. Al-Israa:82). Allah menjanjikan pahala berlipat bagi yang membaca dan mendengarkan ayat suci Al-Quran. Selain itu, Al-Quran juga dapat menjadi obat dan penawar, lho~~
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr. Ahmed E.Qazi dan kawan-kawan, menunjukkan bahwa tekanan darah yang tinggi dapat menurun selama mendengarkan bacaan Al-Quran. Transmisi suara dan vibrasi dari huruf-huruf Al-Quran dapat menstimulasi perasaan akan kekuatan, ketenangan jiwa, konsentrasi pikiran, keagungan, dan lain-lain.
5. Isyarat Bumi Bulat dalam Al-Quran
Hayooo grameds~ apakah kalian termasuk mengikuti diskusi mengenai bumi bulat dan tidak bulat?
Dalam Al-Quran, telah dijelaskan bahwa bentuk bumi itu bulat. Ketika itu, sahabat bertanya mengenai kemana benda-benda di angkasa.
Lalu, Rasulullah SAW menjawab, “Ia tetap berada di tempatnya. Tidak berpindah dan bergeser. Ia tenggelam bagi satu kaum dan terbit bagi kaum lainnya. Ia tenggelam dan terbit pada satu kaum (dan dalam waktu bersamaan) satu kaum mengatakan ia tenggelam, sementara kaum yang lain mengatakan ia terbit. (Musnad Imam Abiy Ishak Al-Hamadany)
Hadist itu menjelaskan bahwa hal tersebut tidak akan terjadi apabila bumi tidak berbentuk bulat.
Firman Allah, “…Dan masing-masing beredar pada garis edarnya”. (QS. Yassin:40).
Pada masa khalifah Al-Makmun, sempat dilakukan pengukuran luas bumi dengan sangat teliti. Hal tersebut didasari atas keyakin bahwa bumi itu bulat, Al-Biruni juga membagi bola bumi menjadi garis-garis bujur dan lintang berdasrakan keyakinan yang sama.
Ketika hendak membaca kitab suci Al-Quran, alangkah baiknya kita membaca doa berikut:
ta’awwudz a’udzu billahisami’il-alimi minasy-syaithanir-rajim. Rabbi a’udzu bika min ha mazatisy-syayathin, wa a’udzu bika rabbi an yahdhurun.
Artinya:
Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk. Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan setan, dan aku berlindung kepada-Mu, Ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.
Setelah itu, sebaiknya kamu juga membaca Surah Al-Nas dan Surah Al-Fatihah, ya…
2. Saat membaca Al-Quran
Ketika sedang membaca kitab suci Al-Quran, terutama ketika membaca ayat tasbih, kamu sebaiknya sambil bertasbih dan mengumandangkan takbir juga.
Kemudian, saat membaca ayat yang berisi mengenai doa dan istigfar, sebaiknya kamu juga berdoa dan melafalkan istigfar.
Lalu, saat kamu membaca ayat Al-Quran yang berkaitan dengan sesuatu yang sedang kamu harapkan, sebaiknya kamu memohon kepada-Nya supaya harapanmu itu dikabulkan oleh-Nya.
Setelah itu, jika kamu membaca ayat suci Al-Quran mengenai sesuatu yang kamu takuti, sebaiknya kamu memohon perlindungan kepada-Nya.
Tidak lupa untuk melafalkan doa berikut, secara lisan atau dalam batin.
(Mahasuci Allah. Kamu berlindung kepada Allah. Ya Allah, berilah kami rezeki, Ya Allah, rahmatilah kami).
3. Setelah Membaca Al-Quran
Seusai membaca kitab suci Al-Quran, alangkah baiknya apabila kita membaca doa berikut, ya…
Shadaqallahu ta’ala wa balagha rasulullahi shallallahu ‘alaihi wa sallam, allahummanfa’na bihi, wa baraka lama fihi, alhamdu lillahi rabbil-alamin, wa astagfirullahal-hayyal-qayyum
Artinya:
Benarlah Allah Yang Mahatinggi, Rasulullah SAW, telah menyampaikan kebenaran, Ya Allah, jadikanlah ini berguna bagiku dan berilah aku keberkahan dengannya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Mahahidup dan Maha Berdiri sendiri).
4. Pendapat Ahli Mengenai Etika Membaca Al-Quran
Hudzaifah berkata “Saya shalat bersama Rasulullah SAW. Beliau membaca Surah Al-Baqarah. Setiap kali membaca ayat tentang rahmat, Beliau menyampaikan permohonan, setiap kali membaca ayat tentang siksaan, Beliau memohon perlindungan, dan setiap kali membaca ayat tentang penyucian, Beliau bertasbih.”
Abu Mulaikah meriwayatkan bahwa Ya’la bin Malik bertanya kepada Ummu Salamah mengenai bagaimana cara Rasulullah SAW membaca kitab suci Al-Quran. Lalu, Ummu Salamah menerangkan bacaan yang disertai penjelasan huruf demi huruf (HR Al-Tirmidzim Abu Dawud, dan Al-Nasa’i)
Abu Mulaikah juga meriwayatkan bahwa Ummu Salamah berkata, ‘Rasulullah SAW kadang-kadang menghentikan bacaannya dan membaca Alhamdu lillahi rabbil-alamin, lalu berhenti dan membaca Al-rahman al-rahim, lalu berhenti. (HR Al-Tirmidzi)
Qatadah meriwayatkan bahwa Anas pernah ditanya, “Bagaimana cara Rasulullah SAW membaca Al-Quran?”
Ia kemudian menjawab. “Beliau membacanya dengan memanjangkan (huruf yang semestinya dibaca panjang). Beliau membaca bismillahirrahmanirrahim. Beliau memanjangkan bismillah, memanjangkan al-rahman, dan memanjangkan al-rahim. (HR Al-Bukhari)
Hudzaifah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Bacalah Al-Quran dengan dialek dan bunyi bahasa Arab. Waspadalah kalian terhadap dialek ahl al-’isq (pemuja cinta) dan dialek ahl al-kitabain (Yahudi dan Nasrani). Sepeninggalku, akan ada sekelompok orang yang mengulang-ulang Al-Quran dan melakukannya, tetapi bacaan Al-Quran itu hanya sebatas pada kerongkongan mereka. Hati mereka dan hati pengagumnya telah terkena fitnah.”
Thawus meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW ditanya, mengenai siapakah orang yang suara dan bacaannya paling baik dalam membaca Al-Quran? Beliau menjawab, “Orang yang apabila kamu mendengar dia membaca (Al-Quran), kamu melihatnya takut kepada Allah. (HR Al-Tirmidzi)
Dari kegiatan membaca Al-Quran, memperoleh pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT menjadi manfaat paling utama. Allah memahami niat kita dalam membaca kitab suci tersebut walaupun kita tengah terbata-bata saat melaksanakannya.
Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai pahala yang diperoleh dari kegiatan membaca Al-Quran ini, yakni “Allah SWT berfirman, ‘Barangsiapa menyibukkan diri untuk membaca Al-Quran sehingga lupa untuk berdoa dan memohon kepada Ku, Aku memberinya pahala yang lebih utama daripada pahala orang-orang yang bersyukur.’” (HR. At-Tirmidzi)
Berdasarkan sabda Rasulullah SAW tersebut, jelas bahwa membaca Al-Quran merupakan ibadah wajib dan sangat disenangi oleh Allah SWT.
2. Diselamatkan Saat Hari Penghisaban Akhirat
Derajat orang yang selalu menyibukkan diri untuk membaca Al-Quran akan dinaikkan apalagi saat hari penghisaban di hari kiamat kelak. Derajat mereka akan selalu naik ke tempat atas yakni surga.
Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga orang yang pada hari kiamat berada di atas bukit pasir dari kesturi hitam tanpa disentuh ketakutan dan tidak dikenal penghisaban hingga penghisaban kepada semua manusia selesai. Pertama, orang yang membaca Al-Quran karena mengharapkan ridha dari Allah Azza wa Jalla. Kedua, orang yang mengimami sekelompok orang dengan membacanya dan mereka ridha kepadanya.”
Berdasarkan sabda Rasulullah SAW tersebut, dapat dikatakan bahwa seseorang yang selalu membaca Al-Quran dengan mengharapkan ridha dari Allah SWT maka kelak saat hari kiamat akan diselamatkan dari hari penghisaban.
3. Menjadi Keluarga dan Kepercayaan Allah SWT
Berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang berkata “Ahli Al-Quran adalah keluarga dan kepercayaan Allah”.
Dalam sabda tersebut, seorang ahli Al-Quran atau seseorang yang selalu membaca kitab suci Al-Quran, akan menjadi orang keistimewaan sekaligus kepercayaan Allah SWT.
Selain itu, dengan membaca Al-Quran kita dapat menjadi lebih dekat dengan Allah SWT. Seperti yang terdapat dalam sabda berikut!
Ahmad bin Hanbal berkata, “Saya bermimpi melihat Allah Azza wa Jalla. Saya bertanya, ‘Ya Tuhanku, apakah cara yang paling utama bagi seseorang untuk mendekat kepada-Mu?’ Dia menjawab, ‘Dengan kalam-Ku, wahai Ahmad.’ Saya bertanya lagi, ‘Ya Tuhanku, apakah dengan memahaminya atau tanpa memahaminya?’ Dia menjawab, ‘Dengan memahaminya ataupun tanpa memahaminya.”
4. Menjadi Obat Terbaik saat Sakit
Membaca kitab suci Al-Quran membuat perasaan, hati, dan pikiran kita menjadi tenteram. Mengapa? Karena dalam kitab suci Al-Quran, ayat-ayatnya mengandung kenikmatan dan keindahan yang dapat dirasakan oleh ahli Al-Quran.
Imam Al-Suyuthi, dalam Al-Itqan, berpendapat mengenai adanya dua puluh lima keistimewaan yang ada di sebuah kitab suci Al-Quran. Beliau berkata, “Ibnu Majah dari lain-lain meriwayatkan bahwa Ibn Mas’ud berkata, ‘Hendaklah kalian berobat dengan Al-Quran dan madu.”
Selain itu, dalam hadist lain juga menyebutkan mengenai manfaat Al-Quran yang dapat menjadi obat terbaik saat sakit, yakni “Obat terbaik adalah Al-Quran”.
Tak hanya itu, Thalhah bin Mushrif berkata “Jika Al-Quran dibacakan kepada orang yang sakit, sakitnya akan terasa ringan.”
5. Rumah Diberkahi oleh Allah SWT
Rumah yang kita tinggali, apabila sering kita bacakan ayat suci Al-Quran, tentu akan diberkahi oleh Allah SWT. Apabila anggota keluarga yang berada di rumah selalu membuka dan membaca Al-Quran maka rumah tersebut seolah bercahaya terang karena ibadah tersebut.
Amr bin Al-’Ash berkata bahwa “Setiap ayat dalam Al-Quran merupakan satu tingkatan di surga dan pelita di rumah kalian.”
6. Dijauhkan dari Setan
Setan atau jin merupakan makhluk Allah yang senantiasa akan mengganggu keimanan kita. Namun, hal tersebut dapat kita cegah dengan membaca Al-Quran.
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa “Jin pernah berkata kepadaku, ‘Jika kamu hendak tidur, bacalah ayat Al-Kursi. Dengan demikian, kamu akan senantiasa dalam lindungan Allah dan setan tidak dapat mendekat kepadamu hingga subuh.”
Rasulullah SAW juga bersabda mengenai hal tersebut, yakni “Tentang hal ini, jin itu benar, padahal ia sering berdusta.” (HR. Al-Bukhari)
Selain itu, Abu Hurairah juga meriwayatkan sabda Rasulullah SAW mengenai rumah yang tidak akan dimasuki oleh setan apabila kita rajin membaca Al-Quran, yakni “Rumah yang dibacakan surah Al-Baqarah tidak akan dimasuki setan.” (HR Al-Tirmidzi)
Bahkan, ayat yang terkandung di dalam kitab suci Al-Quran juga dapat menjadi penangkal sihir atau kejahatan setan lainnya.
Ibn Baththal bersabda mengenai hal tersebut, “Di dalam Al-Mu’awwidzat (Surat Al-Falaq dan Al-Nas) terkandung rahasia yang tidak terdapat dalam sesuatu apa pun selain Al-Quran. Sebab, ia mencakup semua doa yang meliputi banyak hal yang tidak disukai, seperti sihir, hasud, kejahatan setan, dan was was. Oleh karena itu, Rasulullah SAW merasa cukup dengan surah tersebut.”
7. Senantiasa Mendapatkan Perlindungan dari Allah SWT
Manfaat dari membaca kitab suci Al-Quran selanjutnya adalah kita sebagai makhluk Allah akan selalu memperoleh perlindungan dari-Nya.
Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa membaca seluruh Surah Al-Dukhan, awal Surah Al-Mu’min hingga ayat: ilaihi al-mashir (ayat 1-3), dan Ayat Al-Kursi pada sore hari, ia akan terlindungi hingga pagi hari berikutnya. Barang siapa membacanya pada pagi hari, ia terlindungi hingga sore hari.” (HR Al-Tirmidzi)
8. Membuat Hati Menjadi Tenang
Grameds~ kalian pasti sering bukan mengalami hati yang tidak tenang? Entah merasa was-was atau berpikir seolah akan ada hal yang tidak menyenangkan terjadi. Nah, supaya perasaan tersebut hilang, ada baiknya kita membaca kitab suci Al-Quran.
Ibn ‘Abbas r.a meriwayatkan bahwa Rasullah SAW bersabda, “Jika kamu merasa was-was, bacalah ayat: Dialah Yang Mahaawal dan Yang Mahaakhir, Yang Mahazahir dan Yang Mahabatin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS Al-Hadid [57]: 3)” (HR Abu Dawud).
9. Berisi Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan yang berkembang pada zaman dahulu dan zaman sekarang, semuanya telah dituliskan oleh Allah SWT melalui kitab suci Al-Quran.
Ibn Mas’Ud berkata, “Jika kalian menginginkan ilmu pengetahuan, kaji dan pahamilah Al-Quran karena di dalamnya terdapat pengetahuan orang-orang dari generasi dahulu dan generasi yang akan datang.”
10. Dikabulkan Doa Kita
Doa-doa yang sering kita minta kepada Allah SWT, pasti ada yang dikabulkan dan ada yang tidak. Mengapa? Karena memang tidak semua yang kita minta kepada-Nya akan diberikan. Terkadang Allah SWT memang menghancurkan rencanamu supaya rencana yang telah kamu buat itu tidak menghancurkanmu di kemudian hari.
Sa’ad bin Abi Waqqash meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Doa Dzun Nun (Nabi Yunus AS) ketika berada di dalam ikan paus adalah, ‘La ilaha illa Anta, subhanaka inni kuntu minazh-zhalimin, tiada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menganiaya diri sendiri.’ Jika seorang Muslim berdoa dengan ini untuk memohon sesuatu, Allah pasti mengabulkannya.” (HR Al-Tirmidzi dalam Al-Hakim)
Apabila kamu ingin doa-doa yang kamu panjatkan kepada-Nya, didengar oleh-Nya, rajinlah membaca Al-Quran.
Keutamaan sholat dhuha ada banyak sekali, terlebih masalah rezeki. Kebanyakan umat Muslim melaksanakan shalat ini karena punya keinginan atau ingin rezekinya dilancarkan oleh Allah. Pada dasarnya, shalat duha merupakan salah satu shalat sunnah yang dilaksanakan pada pagi hari, lebih tepatnya di waktu dhuha. Waktu ini adalah ketika matahari mulai naik dari peraduannya kurang lebih sebanya 7 hasta sampai menjelang waktu dzuhur.
Meskipun begitu, ada beberapa anjuran yang menyebutkan bahwa shalat dhuha ini lebih baik dilakukan pada akhir waktu dhuha.
Dalam sebuah riwayat hadits dikatakan:
“Shalatnya banyak orang yang bertaubat adalah ketika berdirinya anak gamal karena teriknya matahari”. (HR Mukmin)
Meskipun baik awal waktu maupun akhir waktu, shalat dhuha ini tetap mempunyai banyak keutamaan. Untuk pelaksanannya pun tidak jauh berbeda dengan shalat fardu pada umumnya. Dilakukan minimal 2 rokaat sampai maksimalnya sebanyak 12 rakaat.
Dalam pengerjaannya, shalat sunnah ini dimulai dengan membaca niat:
Yang artinya: “Aku niat salat sunnah dhuha dua rakaat menghadap kiblat saat ini karena Allah Taala.”
Lantas, apa saja sebetulnya keutamaan yang dihadirkan dengan melaksanakan shalat dhuha ini?
Diampuni Segala Dosa
Dosa merupakan ganjaran yang kita dapat setelah melakukan kesalahan yang bertentangan dengan syariat. Biasanya, dosanya ini bisa berupa dosa-dosa kecil bahkan dosa besar. Pada dasarnya, manusia adalah tempatnya untuk berbuat dosa dan berbagai kesalahan.
Baik yang disengaja atau tidak disengajai. Bahkan, banyak juga umat Islam yang tetap melakukan maksiat meskipun dirinya tahu bahwa yang dilakukannya bisa berdosa.
Meskipun begitu, Allah adalah Tuhan yang Maha Pengampun. Sebanyak apapun dosa hamba-Nya, jika mereka mau bertaubat dan tidak mengulangi semua kesalahannya, maka dosa mereka pun akan diampuni.
Apalagi, banyak sekali cara yang bisa mengantarkan umat manusia untuk menebus dosa-dosanya tersebut. Salah satunya dengan melaksanakan shalat dhuha.
Seperti yang disebutkan dalam hadits:
“Siapa saja yang membiasakan (menjaga) sholat dhuha, dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR. At-Tarmidzi).
Sudah jelas sekali, bahwasannya keutamaan shalat dhuha bisa menjadi perantara Allah mengampuni dosa hamba-Nya. Meskipun dosa itu sangat banyak, sebanyak buih di lautan, Allah masih tetap bermurah hati untuk mengampuninya.
Dibuatkan Rumah di Surga
Semua umat Islam pastinya ingin masuk surga. Bahkan banyak orang yang berlomba-lomba melakukan kebaikan dan amalan shaleh agar bisa mendapat jaminan surga dan bisa ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah. Salah satu keutamaan dari mengerjakan shalat dhuha rupanya bisa menjadikan kita masuk ke dalam surga.
Bahkan, dengan shalat sunnah ini kita bisa dibuatkan rumah di sana. Hal ini sesuai dengan hadits:
“Barang siapa yang (melaksanakan) shalat dhuha sebanyak empat rakaat dan empat rakaat sebelumnya, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di surga.” (Shahih al-Jami’ No. 634)
Tak hanya dibuatkan rumah di surga saja, bahkan kita pun sudah pasti akan dibukakan pintu surga. Seperti yang dijelaskan dalam hadits berikut:
“Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pintu bernama pintu Dhuha. Apabila Kiamat telah tiba maka akan ada suara yang berseru, ‘Di manakah orang-orang yang semasa hidup di dunia selalu mengerjakan shalat Dhuha? Ini adalah pintu buat kalian. Masuklah dengan rahmat Allah Subhanahu Wata’ala,” (HR. At-Thabrani).
Dicukupkan Rezeki
Di dunia, rezeki sangatlah beragam. Rezeki inilah yang bisa membantu setiap manusia untuk bisa hidup dengan nyaman. Meskipun begitu, rezeki ini pun tidak terbatas pada harta dan kekayaan saja. Melainkan kesehatan hingga keluarga yang shaleh pun merupakan salah satu bentuk dari rezeki.
Kebanyakan masyarakat seringkali meminta kecukupan rezeki. Hal itu bukanlah masalah, karena memang setiap manusia membutuhkan. Bagi Anda yang ingin mencukupkan rezekinya di dunia maupun di akhir, cobalah untuk rutin melaksanakan shalat dhuha. Seperti pada hadits berikut:
“Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya akan Aku cukupkan untukmu (rezeki) di sepanjang hari itu.” (HR. Ahmad).
Dalam hadits dijelaskan, bahwasannya Allah akan mencukupkan rezeki seseorang yang mau melaksanakan shalat dhuha empat rakaat. Bahkan rezekinya akan terus mengalir di sepanjangan hari ketika paginya orang tersebut melakukan shalat dhuha.
Terhindar dari Sifat Lalai
Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang mau bertaubat pada Allah, mengakui kesalahannya, dan tidak mengulangi kembali segala kesalahannya. Ketika kita melakukan kesalahan, maka wajib untuk kita bertaubat kepada Allah. Untuk melakukannya, Anda bisa dengan melaksanakan shalat dhuha. Seperti dalam hadits berikut:
“Tidaklah seseorang selalu mengerjakan shalat Dhuha kecuali ia telah tergolong sebagai orang yang bertaubat.” (HR. Hakim).
Tak hanya itu, melakukan shalat dhuha pun bisa menjadi tanda bahwa seseorang bukan termasuk orang yang lalai. Seperti hadits yang berbunyi:
“Barangsiapa yang shalat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditulis sebagai orang yang lalai. Barangsiapa yang mengerjakannya sebanyak empat rakaat, maka dia ditulis sebagai orang yang ahli ibadah. Barangsiapa yang mengerjakannya enam rakaat, maka dia diselamatkan di hari itu. Barangsiapa mengerjakannya delapan rakaat, maka Allah tulis dia sebagai orang yang taat. Dan barangsiapa yang mengerjakannya dua belas rakaat, maka Allah akan membangun sebuah rumah di surga untuknya,” (HR. At-Thabrani).
Mendapat Pahala Sedekah
Seperti yang kita tahu, sedekah merupakan salah satu amalan yang dicintai oleh Allah. Banyak sekali cara yang bisa kita lakukan untuk bersedekah dan mendapatkan pahalanya. Bahkan, meskipun kita tidak punya banyak harta, namun banyak cara yang bisa kita lakukan untuk bersedekah. Salah satunya dengan melakukan shalat dhuha. Pasalnya, dengan melakukan shalat dhuha, kita sudah bisa mendapatkan pahala seperti bersedekah.
Hal ini pun dijelaskan di dalam sebuah hadits yang berbunyi:
“Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab tiap kali bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada yang ma’ruf adalah sedekah, mencegah yang mungkar adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu, maka cukuplah mengerjakan dua rakaat sholat Dhuha,” (HR Muslim)
Mendapat Pahala Haji
Haji, merupakan salah satu ibadah wajib yang dilakukan oleh umat Islam yang sudah mampu melaksanakannya. Bahkan, haji pun merupakan salah satu dari rukun Islam. Meskipun begitu, tidak semua orang bisa melaksanakan ibadah tersebut dan mendapatkan pahalanya. Hal ini dikarenakan, untuk melaksanakan ibadah haji perlu banyak hal yang harus dipersiapkan. Baik mental, hingga materi yang tidak sedikit.
Meskipun demikian, ada satu cara yang bisa mengantarkan Anda untuk mendapatkan pahala haji. Salah satunya adalah dengan melakukan shalat dhuha. Dalam salah satu hadits dijelaskan bahwasannya, dari Anas ra:
“Barangsiapa yang mengerjakan shalat fajar (shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai) duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat (Dhuha), ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna.”
Dari riwayat tersebut, sudah jelas sekali dikatakan bahwa orang yang duduk mengingat Allah lalu melakkan shalat dhuha meskipun hanya 2 rakaat saja, pahalanya sudah sangat sempurna bahkan setara dengan pahala orang-orang yang melakukan haji juga umroh.
Sunnah Rasulullah
Seperti yang kita ketahui, mengerjakan segala hal perkara sunnah adalah kebaikan dan bisa mengantarkan kita untuk mendapat pahala yang banyak. Begitu pun ketika mengerjakan shalat sunnah dhuha yang mana merupakan salah satu Sunnah Rosul dengan banyak keistimewaan dan kebaikan yang didapatkan.
Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘anha ditanya oleh Mu’adzah: “Berapa rakaat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat Dhuha?” Dia menjawab : “Empat rakaat dan bisa juga lebih, sesuai kehendak Allah”
Riwayat tersebut menjelaskan bahwasannya Rosul senantiasa melaksanakan shalat dhuha sebanyak empat rokaat. Bukankah apapun yang dilakukan oleh Rosul adalah sunnah yang bisa dikerjakan oleh umatny?
Bentuk Taubat Sesungguhnya
Seperti yang kita ketahui, manusia adalah tempatnya berbuat banyak kesalahan. Bahkan, dosa-dosa pun tidak luput dilakukan. Maksiat tetap dijalankan walaupun diri tahu bahwa itu adalah perbuatan yang tidak diperbolehkan.
Ketika kita melakukan kesalahan dan dosa, maka langkah yang harus kita lakukan untuk mendapat rahmat Allah kembali tentunya dengan bertaubat. Taubat yang dengan sebenar-benarnya dan tentunya sungguh-sungguh.
Ada salah satu keutamaan dan pahala ketika kita melakukan shalat dhuha. Salah satunya adalah shalat dhuha merupakan salah satu bentuk taubat kita kepada Allah. Hal ini sesuai dengan hadist yang berbunyi:
“Hanya orang yang bertaubat yang memelihara shalat dhuha karena shalat dhuha adalah shalatnya orang-orang yang bertobat.” (HR. Ibnu Khuzaiman dan Hakim)
Menjadi Orang Beruntung
Siapa yang tidak ingin menjadi orang yang beruntung disetiap urusannya? Orang yang beruntung tentunya adalah orang yang sudah diridhai setiap langkahnya oleh Allah. Tidak semua orang bisa mendapat keuntungan ini. Namun, Anda bisa mendapatkan keberuntungan dengan melakukan shalat dhuha.
Hal ini tercantum dalam sebuah hadits:
“Barangsiapa yang berwudhu’, kemudian masuk ke dalam masjid untuk melakukan shalat Dhuha, dia lah yang paling dekat tujuanannya (tempat perangnya), lebih banyak ghanimahnya dan lebih cepat kembalinya.” (Shahih al-Targhib: 666)
Hal itu menjelaskan, bahwasanya siapa saja yang melakukan shalat dhuha, di masjid, maka ia akan dekat sekali dengan ghanimah atau keberuntungan.
Dipermudah Segala Keinginannya
Keutamaan lain dari pelaksanaan shalat dhuha ini adalah kita bisa dengan mudah mendapatkan apa yang kita inginkan. Bukan menjadi rahasia, dan bahkan umat Islam pun percaya bahkan sudah terbukti bahwasannya shalat dhuha bisa mempermudah hajat. Misalnya saja ketika kita ingin rezeki kita lapang, tubuh kita sehat, hingga didekatkan dengan jodoh sekalipun.
Dengan melaksanakan shalat dhuha, apa yang kita inginkan semakin dipermudah urusannya sesuai dengan kehendak dan ketetapan Allah. Dengan catatan, shalat tersebut benar-benar ditujukan untuk Allah. Dilakukan dengan ikhlas semata-mata hanya untuk mengharap ridha Allah. Jika Allah sudah ridha, maka apapun akan jadi lebih mudah.
Dengan beberapa kelebihan dan keutamaan melaksanakan shalat dhuha ini, tentu kita akan semakin sadar bahwasannya shalat dhuha banyak mengantarkan kita pada kebaikan. Tak hanya kebaikan, namun juga pahala yang bisa mengantarkan kita menuju tempat terbaik di Surga.
Untuk itu, yuk biasakan diri mengerjakan shalat dhuha. Agar segala dosa diampuni, dan segala urusan dipermudah atas izin Allah.
Imam Asy-Syafi’i merupakan seorang mufti besar Sunni Islam yaitu seorang yang mengikuti sunnah dan berpegang teguh dengannya seluruh perkara yang Rasulullah berada di atasnya dan juga para sahabatnya, Imam Syafi’i juga merupakan pendiri Mazhab Syafi’i. Jika di urut lebih jauh, Imam Syafi’i masih memiliki kerabatan dengan Rasulullah, ia masih termasuk dalam Bani Muththalib, yaitu keturunan dari al-Muthalib, saudara dari Hasyim yang merupakan kakek Muhammad.
Profil Lengkap Imam Asy-Syafi’i
Imam Syafi’i memiliki nama asli Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i al-Muththalibi al-Qurasyi, Imam Syafi’i lahir di Gaza, Palestina pada tahun 150 H (767-820 M) berasal dari keturunan bangsawan Qurays dan masih keluarga jauh Rasulullah SAW. Dari ayahnya, ia memiliki garis keturunan dari Abdul Manaf (Kakek ketiga dari Rasulullah), sedangkan dari Ibunya yang merupakan cicit dari Ali bin Abi Thalib.
Semasa dalam kandungan, kedua orangtuanya meninggalkan Mekkah menuju Palestina, setibanya di Gaza ayahnya jatuh sakit dan berpulang ke Rahmatullah kemudian beliau diasuh dan dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi yang sangat prihatin dan serba kekurangan. Pada usia 2 tahun, ia bersama ibunya kembali ke Mekkah dan di kota inilah Imam Syafi’i mendapat pengasuhan dari ibu dan keluarganya secara intensif.
Pada usia 9 tahun, Imam Syafi’i telah menghafal seluruh ayat Al-Quran bahkan dengan lancar beliau sempat 16 kali khatam al-quran dalam perjalanan dari Mekkah menuju Madinah. Setahun kemudian, kitab Al-Muwatha’ karangan imam malik berisikan 1.720 hadist pilihan juga sudah dapat ia hafalkan di luar kepala.
Kontribusi Imam Asy-Syafi’i
Imam Syafi’i juga menekuni bahasa dan sastra Arab di dusun Badui Bani Hundail selama beberapa tahun, kemudian beliau kembali ke Mekkah dan belajar Fiqh dari seorang ulama besar yang juga mufti kota Mekkah pada saat itu yaitu Imam Muslim bin Khalid Azzanni.
Karena kecerdasannya inilah membuat Imam Syafi’i dalam usia sangat muda yaitu 15 tahun telah duduk di kursi mufti kota Mekkah. Namun dengan demikian Imam Syafi’i belum merasa puas untuk menuntut ilmu karena semakin dalam beliau menekuni suatu ilmu maka Semakin banyak yang belum beliau mengerti. Sehingga tidak heran bila guru Imam Syafi’i begitu banyak jumlahnya sama dengan banyaknya para muridnya.
Meskipun Imam Syafi’i telah menguasai hampir seluruh disiplin ilmu, namun beliau lebih dikenal sebgai ahli hadist dan hukum karena inti pemikirannya hanya terfokus pada dua cabang ilmu tersebut. Pembelajaran yang besar terhadap sunnah Nabi sehingga beliau di gelari sebagai Nasuru Sunnah yaitu seorang pembela sunnah Nabi.
Dalam pandangannya, Sunnah Nabi mempunyai kedudukan yang sangat tinggi, malah beberapa kalangan menyebutkan bahwa imam Syafi’i menyetarakan kedudukan sunnah dengan Al-Quran dalam kaitannya sebagai seumber hukum islam. Karena itu, menurut beliau setiap hukum yang ditetapkan oleh rasulullah pada hakekatnya merupakan hasil pemahaman yang diperoleh Nabi dari pemahamannya terhadap Al-Quran. Selain kedua sumber tersebut (Al Quran dan Hadis), dalam mengambil suatu ketetapan hukum, Imam Syafi’i juga menggunakan Ijma’, Qiyas dan istidlal (penalaran) sebagai dasar hukum islam.
Karya Imam Asy-Syafi’i
Ar-Risalah Ar-Risalah merupakan buku pertama tentang ushul fiqh dan kitab “Al Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru.
Al-Hujjah Kitab Al-Hujjah merupakan madzhab lama diriwayatkan oleh empat imam Irak; Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al Karabisyi dari Imam Syafi’i. Dalam masalah Al-Qur’an, dia Imam Asy-Syafi`i mengatakan, “Al-Qur’an adalah Qalamullah, barangsiapa mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah kafir.”
Al-Umm Kitab Al-Umm sebagai madzhab yang baru Imam Syafi’i diriwayatkan oleh pengikutnya di Mesir; Al Muzani, Al Buwaithi, Ar Rabi’ Jizii bin Sulaiman. Imam Syafi’i mengatakan tentang madzhabnya,”Jika sebuah hadits shahih bertentangan dengan perkataanku, maka buanglah perkataanku di belakang tembok,”
Wafatnya Imam Syafi’i
Pada suatu hari, Imam Syafi’i menderita penyakit wasir, hingga terkadang jika ia naik kendaraan darahnya mengalir mengenai celananya hingga sampai ke pelana dan kaus kakinya. Penyakit wasir telah menyiksa Beliau selama hampir empat tahun, Beliau menanggung sakit demi melakukan ijtihad yang baru di Mesir, hingga menghasilkan empat ribu lembar. Selain ber-ijtihad, beliau terus mengajar, meneliti dialog serta mengkaji baik siang maupun malam.
Pada suatu hari Al-Muzani murid Imam syafi’i masuk menghadap dan berkata, “Bagamana kondisi Anda wahai guru?” laluImam Syafi’i menjawab, “Aku telah siap meninggalkan dunia, meninggalkan para saudara dan teman, mulai meneguk minuman kematian, kepada Allah dzikir terus terucap. Sungguh, Demi Allah, aku tak tahu apakah jiwaku akan berjalan menuju surga sehingga perlu aku ucapkan selamat, atau sedang menuju neraka sehingga aku harus berkabung?”.
Setelah itu, Beliau melihat di sekelilingnya seraya berkata kepada murid-muridnya, “Jika aku meninggal, pergilah kalian kepada wali (penguasa), dan mintalah kepadanya agar mau memandikanku,” lalu sepupunya berkata, “Kami akan turun sebentar untuk salat.” Imam menjawab, “Pergilah dan setelah itu duduklah disini menunggu keluarnya ruhku.”
Setelah sepupu dan murid-muridnya salat, Imam Syafi’i bertanya, “Apakah engkau sudah salat?” lalu mereka menjawab, “Sudah”, lalu ia minta segelas air, pada saat itu sedang musim dingin, muridnya berkata, “Biar kami campur dengan air hangat,” Imam Syafi’i menjawab, “Jangan, sebaiknya dengan air safarjal”. Tidak lama kemudian Beliau wafat.
Imam Syafi’i wafat pada malam Jum’at menjelang subuh pada hari terakhir bulan Rajab tahun 204 Hijriyyah atau tahun 809 Miladiyyah pada usia 52 tahun.
Tidak lama setelah kabar kematiannya tersebar di Mesir, telihat kesedihan dan duka melanda seluruh warga, mereka semua keluar dari rumah ingin membawa jenazah di atas pundak, karena dahsyatnya kesedihan yang menempa mereka. Tidak ada perkataan yang terucap saat itu selain permohonan rahmat dan ridha untuk yang telah pergi.
Sejumlah ulama pergi menemui wali Mesir yaitu Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam, untuk memintanya datang ke rumah duka untuk memandikan Imam sesuai dengan wasiatnya. Ia berkata kepada mereka, “Apakah Imam meninggalkan hutang?”,“Benar!” jawab mereka serempak. Lalu wali Mesir memerintahkan untuk melunasi hutang-hutang Imam seluruhnya. Setelah itu wali Mesir memandikan jasad sang Imam.
Jenazah Imam Syafi’i lalu diangkat dari rumahnya, melewati jalan al-Fusthath dan pasarnya hingga sampai ke daerah Darbi as-Siba, sekarang jalan Sayyidah an-Nafisah. Dan, Sayyidah Nafisah meminta untuk memasukkan jenazah Imam ke rumahnya, setelah jenazah dimasukkan, dia turun ke halaman rumah kemudian salat jenazah, dan berkata, “Semoga Allah merahmati asy-Syafi’i, sungguh ia benar-benar berwudhu dengan baik.”
Jenazah kemudian dibawa, sampai ke tanah anak-anak Ibnu Abdi al-Hakam, disanalah Beliau dikuburkan. Makam tersebut kemudian terkenal dengan Turbah asy-Syafi’i sampai hari ini. Disana pula dibangun masjid yang diberi nama Masjid asy-Syafi’i. Penduduk Mesir terus menerus menziarahi makam sang Imam sampai 40 hari 40 malam. Karena banyaknya peziarah, tidak mudah untuk sampai ke Makam Imam Syafi’i.